ReviewReviewReviewReviewPenerbit Merasa Terancam e-BookJul 19, '08 6:56 PM
for everyone
Category:Other
Sumber : Radar Malang

Kendati tarikan dana buku masih marak, penerbit mulai risau dengan program konten pembelajaran berbasis ICT Depdiknas atau e-book. Bahkan, penerbit Erlangga merasa terpukul dengan kebijakan tersebut. ''Kebijakan ini sangat populis. Penerbit nyaris kolaps," ungkap Manajer Penerbit Erlangga wilayah Kota Malang Teguh Ahmad Sujiono, kemarin.

Teguh mengungkapkan, karena kebijakan itu, ribuan eksemplar buku ajar yang telah dicetak terancam tak terdistribusi. Sebab, sekolah-sekolah belum berani mengadakan kerjasama dengan penerbit tentang pengadaan buku di sekolah. Alasannya, diknas menginstruksikan belum boleh ada tarikan. Sementara, sekolah-sekolah yang terlanjur meneken kerjasama dengan penerbit mulai pikir-pikir tentang perpanjangan kontrak. Kesannya, lanjut Teguh, kepala sekolah mulai ekstra hati-hati dengan kebijakan beli buku. ''Tak sedikit sekolah yang meninjau ulang kontrak. Sebagian lagi memilih lepas kontrak,'' terangnya.

Teguh membeberkan, untuk masuk dalam jaringan sekolah bukanlah hal sulit bagi penerbit. Sebab, kerjasama ini tak didasarkan tender atau izin diknas. Cukup negosiasi dengan sekolah terkait. Proses selanjutnya, biasanya sekolah mengadakan rapat dengan dewan dan komite sekolah. Pada tahapan ini, kepala sekolah, komite, dan dewan sekolah melakukan telaah buku.

''Kalau buku bisa dipakai, biasanya sekolah melakukan kerjasama," urai manajer yang sebelumnya dinas di Cilacap ini.

Karena itu, Teguh berharap pemerintah meninjau ulang kembali kebijakan e-book. Dia berasalan, penerbit selama ini telah berjuang keras turut mencerdaskan anak bangsa. Kini, adanya kebijakan pemerintah tentang e-book dan sebelumnya soal larangan jual beli buku di sekolah, pihaknya merasa bukan pengedar buku. ''Menjual buku dianggap tabu, tapi giliran jual hand phone dan pulsa dibiarkan," tandas Teguh. (nen/war).

===============================
Hmmm.. kalau menurut saya upaya untuk membuat pendidikan lebih terjangkau dan lebih mudah terakses memang diperlukan, seperti program yang digagas oleh Diknas, yang gencar meluaskan keteraksesan internet sebagai salah satu piranti pendukung proses belajar. Padahal akses internet di negeri ini masih amat mahal dan belum berskala nasional/luas.

E-book bisa dipakai oleh guru sebagai bahan ajar, slide presentasi, atau Ubuntu misalnya, bisa membantu pembelajaran yang lebih asyik. Siswapunbisa mendapatkan foto kopi ebook-ebook bahan ajar tertentu.

Bahkan soalan buku pelajaran (apalagi yang pendidikan dasar) seharusnya dikelola pemerintah, sebagai salah satu fasilitas publik, kalau bisa sampai gratis, ini merupakan investasi negara yang sangat besar artinya dan signifikan untuk masa depan.

Lalu bagaimana dengan industri buku (yang dimaksud disini adalah yang memproduksi buku pelajaran). Setiap kebijakan publik akan menimbulkan konflik kepentingan, disinilah diperlukan pengambil kebijakan yang memahami ranah persoalan dengan berbagai timbangan didalamnya. Dengan keterjangkauan akses pendidikan (a.k.a ebook), sebenarnya masyarakat akan menjadi masyarakat terdidik. Masyarakat yang telah terdidik akan masuk ke fasa selanjutnya, yaitu masyarakat yang berkebutuhan terhadap bacaan, maka pada fasa itu industri buku akan mendapatkan posisinya kembali, mungkin juga akan lebih diapresiasi, misalnya harga buku dan royalti kepada penulis lebih terapresiasi.

Tetapi sebelum fasa itu, maka kekhawatiran industri buku juga laik menjadi pertimbangan pengambil kebijakan, harus pula disediakan back up bagi industri buku. Bagaimana lagi, mungkin untuk yang kesekian kali, saya masih harus mengatakan, ini negara tanpa pemerintahan!

14 CommentsChronological   Reverse   Threaded
bunda2f wrote on Jul 19
serba salah memng..
disatu sisi memang ingin bikin kebijakan buat anak sekolah...tapi di sisi lain..penerbit juga bingung...
cahayahati wrote on Jul 19, edited on Jul 19
iyaa saya pribadi menilai positif keputusan e-book ini, khusus di bidang pendidikan. Praktek bisnis di bidang pendidikan sudah semakin membuat bulu kuduk berdiri.
mutiaramadinah wrote on Jul 19
@mba maya: sulit ya.. tapi kepentingan dalam skala lebih luas, besa, dan jauh mungkin harus diutamakan, dalam hal ini, kepentingan anak-anak (dan orangtuanya) tentang hak terhadap akses pendidikan menjadi prioritas.

@mba anky: serem ya.. pendidikan menjadi (amat) tidak humanis, anak-anak diletakkan dalam mesin conveyor pencetak calon pemenuh tuntutan industri, dan tuntutan orang tua serta masyarakat terhadap simbol-simbol kemapanan. Peluang pasar ada, maka bisnis pendidikan mendapat tempat tumbuh hingga menggejala dan menggila. Semuanya dalam alam liar nyaris tanpa kontrol dan aturan, hukum rimba sepertinya akan terus berlaku..
iwananashaya wrote on Jul 19
hmm.. *mikir* iya.... sebaiknya bagaimana, ya?
mutiaramadinah wrote on Jul 20
@mba sovi: sebaiknya pendidikan murah dan terjangkau, lebih humanis dan diatur bener oleh pemerintah hi..hi..hi.. sambil cemas-cemas harap
bundakirana wrote on Jul 20
buku yg dicetak lebih nyaman dibaca dan dipelajari... tapi kalau harga mahal.. kasihan juga yg tak mampu..
seharusnya, buku tetap dicetak dgn harga kertas yg disubsidi, tapi itu butuh pemerintah yg memang bervisi (yg entah kapan akan kita miliki!)
zulfigitu wrote on Jul 20
Hal ini jg disebabkan harga buku cetak yg selangit. Ujung2nya krn pemerintah yg tdk memberikan subsidi. Padahal di negara2 maju,semisal Eropa, pemerintah amat getol mendukung pendidikan lwt subsidi harga kertas.

Sedang utk pengadaan e-book,mgkn di daerah2 pulau jawa yg memiliki koneksi internet bgus itu tdk mslh. Tp,utk non-jawa yg blm tsentuh internet,memiliki e-book adl sebuah perjuangan maha berat.
nunkhermawan wrote on Jul 20
sebaiknya buku yang dijual harganya harus murah agar supaya semua siswa mampu untuk membelinya...karena buku penting sebagai penunjang belajar..kebetulan ponakan ane baru masuk sekolah n dana yg dikeluarkan utk buku ternyata besar jg trus untuk tahun depan tu buku kaga bisa diturunkan ke adiknya...otomatis si adik harus beli buku baru lagi......
mutiaramadinah wrote on Jul 20
@mba dina: kapan ya... negara yang berpemerintahan

@pak zulfigitu: siippp Europe memang lebih memanusiakan manusia, tuh kan pak, sebenarnya pasar untuk para penerbit buku masih ada, jadi biarkan yang bisa murah bukunya menjadi murah
mutiaramadinah wrote on Jul 20
@mba nunk: bagaimana lagi mba... kalau aturan ga tegak...kebijakan publik ga diurusin..
ibutio wrote on Jul 20
di satu sisi..oke deh, penerbit juga perlu hidup...tapii.....jangan hanya pengen untung sendiri dong... saya sebal sama penerbit yang memang kerjanya hanya menerbitkan buku pelajaran, yang hanya dijual disekolah, trus harganya mahal, padahal isinya sama sekali gak berkualitas.... beneran bikin saya "bertanduk" melihatnya. Penerbit juga harus kreatif, tidak sekedar menerbitkan buku pelajaran, terbitkan juga buku pendamping lain yang memang mencerdaskan.
widyatmoko wrote on Jul 20
penerbit kan bisa saja mencari peluang lain...misalnya menerbitkan e-book, selain harga bisa lebih terjangkau juga lebih 'hijau' [tidak memakai banyak kertas dan sumber daya alam].....yang lebih utama mungkin penghargaan kepada pengarang atau pencipta e-book itu....sistem yg ada mestinya dibuat sehingga tetap memberikan daya tarik para penulis untuk membuat e-book baru tanpa harus khawatir kehilangan penghasilan (karena lebih mudah dibajak).....
mutiaramadinah wrote on Jul 20
@mba susi: mungkin jumlah siswa bersekolah pendidikan dasar cukup besar, sehingga pasar yang sangat menarik bagi penerbit buku, apalagi kan memang tidak ada tender nasional, jadi pinter-pinternya penerbit mendekati pihak sekolah, akibatnya kan sering buku ganti-ganti, tiap tahun bisa beda. Kalau memilih skala kepentingan yang lebih besar dan mendesak, maka kepentingan publik terhadap fasilitas pendidikan tentu lebih urgen dibanding pengusaha buku. Kalau mau, disediakan bantalan bagi pengusaha misalnya insentif harga kertas atau insentif bagi yang menerbitkan e-book atau buku termurah.
mutiaramadinah wrote on Jul 20
@pak ndaru: ide yang menarik...
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.