didin's posts with tag: abah
Surprise, nemu di mp nya mba dianseneng dengan lyric nya yang dalem, aransemen musiknya yang 'biasa' tapi berasa, kenangan manis di tahun 94, waktu masih kelas 1 atau 2 SMP... Special buat abah yang selalu...Letting me know what's real....From what is not What I've got is more than I'd ever hoped for.... And a lot of what I hope for is...Thanks to you === Thank you for teaching me how to love Showing me what the world means What I've been dreamin' of And now I know, there is nothing that I could not do Thanks to You For teaching me how to feel Showing me my emotions Letting me know what's real From what is not What I've got is more than I'd ever hoped for And a lot of what I hope for is Thanks to you No mountain, no valley No time, no space No heartache, no heartbreak No fall from grace Can't stop me from believing That my love will pull me through Thanks to You There's no mountain, no valley No time, no space No heartache, no heartbreak No fall from grace Can't stop me from believing That my love will see me through Thanks to You Thanks to You For teaching me how to live Putting things in perspective Teaching me how to give And how to take No mistake We were put here together And if I breakdown Forgive me but it's true That I'm aching with the love I feel inside Thanks to You Thanks to you thanks to you.flv (8.3 MB)
Sudah dua juni bersamanya, seperti yang dikatakannya, travelling a journey of life and love, untuk berkumpul dan mendapat kesudahan yang lebih baik dalam surga-Nya. Berarti sebulan ke depan akan dua tahun mengenalnya. Alhamdulillah..
Juni pertama sudah sembilan bulan kandungan istrinya, sehingga bersiap melahirkan di tempat orangtuanya, terpisah jauh darinya. Pada juni itu, di awal bulan suaminya di opname di rumah sakit di Jakarta, kondisi fisiknya menurun, demam menggigil, mimisan, badan capek. Bukan DB, bukan malaria, entah apa, dokternya tak menemukan diagnosa pastinya, yang dipastikan adalah kondisi fisik menurun. Istrinya tak berdaya menemaninya, sedih hatinya.
Setelah lima hari di opname, dia bertugas di Medan, beberapa hari. Sepulang dari Medan, menurun lagi kondisi fisiknya, kali ini dia di opname di rumah sakit di Bandung, agar dekat dengan orang tua dan keluarga, sehingga ada yang mengurusi. Demam menggigil, mimisan. Lagi-lagi dokter tak mendapat diagnosa yang pasti, bukan DB, bukan malaria, bukan tipus. Memang dia biasa mimisan kalau capek, tak dalam kondisi sakitpun begitu. Kata dokternya ada orang yang punya selaput membran di hidungnya tipis, sehingga gampang mimisan. Pada opname di bulan juni, istrinya tak berdaya menemaninya, perkiraan persalinan semakin dekat.
Sesudahnya di pertengahan bulan Juli istrinya menunjukkan tanda persalinan, dia sedang di markas tim sukses cagub Jakarta waktu itu, segera dia terbang subuh menemui istrinya. Malamnya dia menemani istrinya persalinan, hingga berlanjut lima hari ikut nginep di rumah sakit menemani istrinya yang operasi.
Kali ini juni kedua, akhir mei istrinya opname suspect DB, dia nginep juga di rumah sakit. Selang seminggu dia yang sakit, suspect DB dan dia opname di rumah sakit. Istrinya tak bisa 24 jam menemani, seperti yang selalu dia lakukan jika istrinya nginep di rumah sakit, karena putrinya masih memerlukan ibunya.
Dia katakan pada istrinya, orang beriman boleh sakit badannya, boleh mengerang sedikit, tapi batinnya senantiasa sehat dan waras.
Mungkin ada juga benarnya kata sebagian orang bahwa anak perempuan lebih cenderung kepada bapaknya, mungkin kemiripannya atau sifat-sifatnya. Tanpa disadari, sayapun lebih punya banyak kemiripan dengan Bapak.
Demikian halnya mba nana, she looks like her father a lot ^_^ the way she observes, the way she moves, sleeps...
Setiap hendak tidur, mereka bermain asyik sekali, hingga akhirnya lelah, dan mba pun mendekat ke sisi ibu, mimik beranjak tidur.
Mba telah dapat memanggil bah..abah.. hingga abahnya suka terharu mendengar suara panggilannya yang merdu.
Malam, ketika tak dijumpainya abah untuk bermain sebelum tidur, nampak gelisah saja. Berguling kesana kemari, bah..abah. .dipanggilnya. Kalau ibu menyebut abah ditengoknya ke pintu kalau-kalau abah datang.
Dalam sebulan saja, di Jakarta diberitakan lima orang meninggal dalam kecelakaan, kebanyakan sepeda motor, akibat jalan rusak atau berlubang. Kejadian naas berlangsung malam hari. Bagaimana tidak, jalanan rusak atau lubang bukan kecil saja, bisa sampai setengah lebar jalan. Apalagi jika hujan turun menggenang, maka lubang-lubang itu tak kelihatan. Jadi berkendaralah pelan-pelan. Namun ada kejadian juga, ketimpuk sama kendaraan atau motor lain yang sedang menghindari lubang.
Di Bandung demikian juga, musim penghujan yang terus berlangsung, memperparah jalanan yang telah rusak. Di TV lokal Jabar, juga diberitakan perihal jalan-jalan rusak ini. Beberapa jalan rusak atau berlubang yang pernah saya lewati adalah : Jalan masuk/keluar Cijambe (sepertinya baru ditambal kerikil-aspal), jalan di Dago Asri (ini parah polll padahal di depan rumah-rumah elitE), jalan Pungkur (katanya sampai ada yang meninggal), jalan masuk komplek-komplek Rancaekek (hati-hati ketika hujan, lubang tidak keliatan sama sekali), jalan Raya Cileunyi (ini jalan provinsi banyak kendaraan besar bis, truk antar kota, antar provinsi).
Nah, yang terakhir ini, di jalan Raya Cileunyi, hari Jum'at lalu saya dan abah ke Rancaekek dalam urusan ABRING, sekaligus juga silaturahmi ke rumah Mang (paman) abah. Mang yang satu ini keliatan 'dalam' pemikirannya, sepertinya cucokk berbagi berbagai hal dengan abah. Banyak hal kami dapatkan dalam obrolan, setelah urusan kripik dengan istrinya mang, kami pun pulang. Sudah pukul lima sore, lebih mungkin, hari kian gelap saja diliputi awan tebal pertanda hendak hujan.
Baru saja kita berjalan, hujan telah turun, cukup deras. Bergegas abah membungkus tasnya dengan jas hujan, karena ada Laptop barunya di tas itu. Tumben apik, katanya leubar laptop baru, mau dipake modal sekolah lagi, jadi kudu apik, ntar kalau laptopnya sudah lama akan keluar juga kebiasaannya, acuh.
Jalanan keluar komplek Rancaekek kencana bukan main.. bukan main rusaknya. Kami harus berkendara amat pelan, jalanan tergenang banjir sekitar 30-50 sentimeter, tak bisa keliatan lubang, akhirnya kami lolos ke jalan raya Cileunyi. Mampir sekejap membeli tahu sumedang, alhamdulillah menghangatkan perjalanan.
Hari menjelang malam, ditambah guyuran hujan, kendaraan-kendaraan berjalan lambat, cukup macet karena hujan dan air tergenang kurang lebih setengah meter. Dalam genangan, motor kerasa terganjal batu, oleng dan terjatuh ke kiri. Di tengah jalan dan genangan air, abah segera membetulkan posisi diri, saya nyebrang minggir ke jalan, tetapi motor tidak bisa di stater. Dalam keadaan lalu lintas padat, abah membawa motor agar bisa ke pinggir jalan yang tidak mengganggu pengendara lain. Kurang lebih 25 meter berjalan, kita menemukan tempat untuk nge-slag jalan lagi.
Alhamdulillah kita baik-baik saja dan tidak membuat kemacetan lalu lintas. Kepada otoritas, tolong diperhatkan jalanan rusak dan berlubang. Akan semakin rusak di musim hujan, jika tak segera dibetulkan.
Memang kudunya belajar kreatif memutar dagangan. ABRING Chips cuci gudang Ahad, 4 mei kemarin. Agar produknya tidak tersimpan di gudang dalam waktu lama (kalau begini kualitas bisa turun), dan sekalian sosialisasi makanan jenis 'baru'. Produk yang di-cuci gudang adalah kripik-kripik gurih, 4 item yaitu kripik ceker, paru, belut dan usus.
Kita jualan di Gasibu. Sekalian belajar, meskipun owner sebaiknya Go to the Detail. Bagi yang tidak tinggal di Bandung, Gasibu adalah lapangan, di depan gedung Gubernuran atau gedung Sate. Hari minggu biasanya dipakai joging,atau olahraga keluarga. Sekalian pula ratusan (atau bahkan ribuan) pedagang membuka lapak-lapak kecil atau besar menjajakan aneka barang dan makanan. Saling bersimbiosis, yang berolahraga merupakan pasar, sekaligus pedagang mempunyai daya tarik tersendiri, sehingga yang tak berniat olah raga pun tertarik datang untuk wisata belanja. Semakin menambah ramai saja.
Tidak banyak yang kita bawa, 70 pcs. Setelah shubuh, jam 5 pagi saya dan abah berangkat ke Gasibu, dengan membawa dua ero (tempat dari plastik yang seperti tempat naruh baju kering). Sesampai disana pedagang sedang menata barang dagangannya, belum begitu ramai. Saya mengambil tempat di depan gedung Telkom, di tengah-tengah jalan yang kira-kira kosong. Naruh kripik dalam dua ero. Sebelah kanan saya telah ada pedagang jilbab, sebelah kiri masih kosong, kemudian datang pedagang jilbab pula membawa dagangan dalam jumlah besar. Sekalian pula menjual dompet dan semacamnya. Di depan saya penjual sepatu, di belakang saya penjual bubur ayam. Sesudah kurang lebih 30 menit disana, datanglah 'bos' nya tempat tersebut, atau premannya, atau semacam itu. Rupanya pedangan di sebelah kiri kami protes karena tempat yg saya dudukin adalah 'tempat mereka' ^_^ Bang preman kemudian menyuruh kami mencari tempat lain, saya bilang, tempat ini sudah di kapling ya.. kok ga dari tadi saya dibilangin.. kata bang preman dia lagi sibuk diatas tadi. Memang berlaku 'konvensi' di tempat yang ramai seperti ini, jadi jangan main duduk aja he..he.. kecuali kalau tempatnya paling ujung atau tidak terlalu ramai. Tidak ada dasar hukumnya, hanya semacam pengertian tidak tertulis tentang siapa-siapa yang sudah 'terdaftar' dagang di tempat tersebut. Makanya ada raja rimbanya kan, tiap blok ada bang premannya ^_^
Alhamdulillah, pedagang asesoris yang baru datang di sebelah kanan kami berbaik hati, mempersilahkan kami di belakangnya, karena melihat juga bawaan kita cukup ringkas, tidak banyak. Akhirnya kami mendapat tempat, bersebelahan dengan tukang boneka, dan datang pula tukang cowet batu jauh dari Cipatat.
Dari sejak kami tiba sekitar pukul 5.15 hingga jam 7 pagi belum satupun dagangan terjual. Belum ada pula yang singgah di lapak kami. Kami tawarkan Ceker, baru di Bandung, tanpa tulang, rangu.. ceker, belut, paru, usus, bayah bayah.. Datang seorang nenek dan cucunya, bertanya, pergi.. datang pula ibu-ibu, bertanya pergi lagi..
Bang asesoris di belakang kami bertanya, apa tak ada tulisan yang menjelaskan dagangannya (maksudnya meni teriak-teriak dari tadi :D). Ada bang, itu dibawah, sekalian biar rame saja, begitu jawab saya. Bang asesoris bilang juga, kalau jual makanan yang sensasional (ga biasa maksudnya) bagus di Gasibu, orang suka tertarik, kayak dagangan ceker yang kita bawa ini. Mudah-mudahan ya Bang, Amiin...
Jam 8 semakin rame saja pengunjung berdatangan. Seorang Bapak menoleh ke lapak kami, memilih, pecah telor deh, beli 1 pcs ceker, 1 pcs paru, 1 pcs belut. Alhamdulillah. Datang lagi seorang Aa, 1 pcs belut. Kalau sudah begini jadi semangat, tambah dinaikin volume suaranya.. ceker..ceker, baru di Bandung, tanpa tulang, rangu.. belut paru usus bayah..bayah..
Datang lagi pembeli, datang lagi terus begitu.. hingga jam 8.30 datang keluarga (berlogat Minang), bertanya, milih, minta dikurangan harga lagi, kurangan lagi :D Dan akhirnya memborong 25 pcs kripik ABRING. Alhamdulillah..
Segera abah meminta saya berkemas kita pulang, padahal masih ada beberapa pcs lagi bayah, pengennya saya dihabiskan saja. Tetapi kata abah waktunya mepet, karena kita harus segera nganter katering rantangan. Kasian kan pelanggannya kalau nungguin sembari lapar.Di Gasibu sedikit sekali dikutip 'biaya', 2000 untuk parkir, 1000 ditarik oleh bang preman, 1000 ditarik oleh bank preman pula mungkin, tapi pakai karcis.
Terharu, meni terasa pisan, ...dan Dia berikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.. min haitsu laa yahtasib (At-Talaq:3) Dahulu, ketika bekerja di perusahaan, kurang 'ngeh' dengan ayat tersebut (serasa kurang syukur). Sekarang ketika belajar berdagang, meni kerasa pisan.. siapa pula yang melangkahkan kaki orang-orang itu membeli dagangan kita. Siapa pula yang menghantarkan orang-orang itu order.
========
Tips buat Reseller ABRING : - berdasarkan pengalaman, segmen paling kena adalah pekerja kantoran, tentu bisa diperluas lagi - kalau mau memperendah harga jual, salah satu caranya adalah memperkecil ukuran/porsinya - karena produknya unik, maka nilai keunikannya bisa disebutkan/diangkat
Siapa lagi yang daftar jadi Reselle ABRING ? kontak 0888-603-4082 email didinkaem@gmail.com
Karena bukan terlahir di tanah Parahyangan, saya kurang ngeh kalau nama pemberian orang tua saya Didin Kristinawati Misnu, atau Didin, identik dengan nama laki-laki ^_^ Baru teman-teman kuliah saya di Bandung, yang ngerasa unik nama akhwat kok Didin ^_^ tetapi ada untungnya juga, jadi agak mudah diingat, ato rada beken gitu he.he.. (ga juga siy  ) Di sebuah milis (tempat saya 'bertemu' suami) juga awalnya jarang yang ngeh kalo Didin yang ini akhwat, akibatnya kalau berbalas wacana para lelaki dan bapak-bapak tersebut memakai gaya bahasa 'cowok' he..he.. Lagi-lagi ada untungnya, jadi ga pake gaya 'jaim' dalam berbalas wacana ^_^ Ustadz Syamsul yang mengisi khutbah nikah kita juga sempet kepleset salah sebut nama, bingung mas didin atau mbak yugi he..he.. Pas syukuran nikahan di Cijambe (di tanah Parahyangan) pembawa acara, bapak-bapak aseli Cijambe juga sempet kagok sekali menyebut mba didin ^_^ Seringkali juga, penelepon untuk beberapa urusan pekerjaan, memanggil Ibu Didin, tetapi kalau kemudian berhubungan dengan suami saya, disebutnya Pak Didin  Lagi-lagi, karena kekeliruan tersebut, kami malah lebih mudah diingat he..he.. Jadi Didin yang ini (yang nulis di multiply ini) bukan istrinya Pak Didin, tapi istrinya Pak Yugi, sehingga di arisan RT, saya ditulis dan disebut sebagai Ibu Yugi
selalu meluluhkanku membuatku menghitung-hitung adakah aku berbuat salah sudahkah kudapat keridhoanmu
Lihatlah ilustrasi pertama ini:Saya dan abah mengisi bensin untuk motor. Ada dua lajur kiri dan kanan dari kotak bensin untuk tiap motor mengantri. Karena pagi itu cukup ramai, maka lajur kanan terlihat oleh kami (dan setiap motor yang baru datang) terdapat dua antrian. Sebut saja lajur 1 dan lajur 2. Abah mengantri di lajur 1 (lajur yang paling dalam/dekat dengan kotak bensin) sebagai antrian ke-empat , di lajur 2 (lajur yang lebih luar) ada empat motor mengantri. Saya berdiri disamping motor abah yang mengantri, kemudian abah menyuruh saya pindah ke depan (ke paling ujung depan antrian, motor keluar), karena tempat itu cukup teduh oleh bayangan. Dari tempat itu saya mulai mengamati motor-motor yang datang. Mba pengisi bensin mengisi bensin secara zig zag. Lajur 1 kemudian lajur 2, baris berikutnya lajur 1 kemudian lajur 2, dan seterusnya. Sampai di giliran abah sebagai baris ke empat mengisi bensin. Saya melihat motor datang mengantri di belakang abah, demikian sampai kira-kira tiga motor dibelakang abah. Pada saat baris ke-3 lajur 2 selesai diisi bensin (sesaat sebelum abah giliran diisi bensin), datang satu motor mengantri di lajur 2, kemudian kosong tak ada lagi motor dibelakangnya. Sementara di belakang abah, tiga motor mengantri sedari tadi pengamatan saya. Begitu motor abah selesai diisi bensin, mba-nya akan mengisi zig zag lagi ke motor lajur 2 (yang dalam pengamatan saya baru datang). Spontan saya bilang ke mba-nya, mbak itu lebih duluan (sambil menunjuk motor di belakang abah). Oh itu ya, demikian kata mba nya. Selanjutnya kamipun berlalu melanjutkan perjalanan. Di perjalanan, peristiwa tersebut berlanjut jadi obrolan. Abah tidak setuju dengan tindakan yang saya ambil diatas. Argumentasi abah, telah diberlakukan aturan oleh mba pengisi bensin ada dua lajur antrian, dan diisi zig-zag. Mba-nya tentu kesulitan melihat motor mana yang duluan, prosedur dia adalah mengisi zig zag. Sedangkan pemilik motor (seharusnya) otomatis mengikuti lajur antrian, dimana yang lebih kosong, ngantri di lajur tersebut. Menurut abah, saya, dengan pengetahuan yang terbatas terhadap sistem meng-interupsi sebuah aturan. Argumentasi saya adalah, saya mengamati sedari tadi, bahwa motor di belakang abah itu mengantri lebih lama. Rasa keadilan saya menyuruh saya melakukan tindakan diatas. Demikianlah, sampai pada poin yang hendak disampaikan abah adalah: Idealisme menuntut/mendapatkan RASA KEADILAN sahaja tidak cukup, harus ada pengetahuan dan bukti material untuk mendapatkan PENEGAKAN KEADILAN. Karena apa, karena kita berada di alam dunia, alam materi, dimana keadilan manusia itu harus terukur, terbuktikan dengan bukti-bukti materi. Demikianlah para qodhi, para hakim memutuskan keadilan (dunia). Ilustrasi kedua:
Sepulang dari peperangan Sayyidina Ali bin Abi Tholib melepas baju besinya. Hasan putranya bertanya, "Ayah hendak diapakan baju perangnya?" "Ini sebentar lagi akan kita bersihkan nak, mungkin ada yang bisa bantu." Kedua laki-laki mulia itu kemudian masuk rumah. Sejurus kemudian mereka keluar hendak membersihkan baju perang, ternyata sudah tak ada lagi baju perangnya. Sayyidina Ali mencari-cari baju perang tersebut, karena tentu akan dibutuhkan untuk sewaktu-waktu Rasulullah menyerukan panggilan jihad. Sedih hati Sayyidina Ali. Sampai di sebuah pasar. Sayyidina Ali melihat baju besinya sedang dijajakan oleh seorang Yahudi. Diamat-amatilah ciri-cirinya, detail-detailnya. Benar ini baju perang milikku batinnya. Didatangkannya Hasan, diminta Hasan melihat baju perang itu. Hasan juga mengiyakan, ini adalah baju perang yang dilihatnya waktu itu. Dimintalah baju perang itu dari Yahudi, tetapi si Yahudi mengelak, dia mengklaim bahwa itu baju perangnya. Masing-masing bersi-keukeuh dengan argumennya. Sampai akhirnya perkara tersebut dihadapkan ke pengadilan, agar Qadli yang adil yang akan memberikan keputusan. Di ruang sidang.Pucat pasilah si Yahudi, kecutlah hatinya, gemetaran batinnya. Pikirannya melayang kemana-mana. Bagaimana mungkin aku akan menang di pengadilan Islam ini, lawanku adalah pemimpin yang disegani, hakimnya adalah hakim Islam. Sedang aku seorang Yahudi, bagaimana mungkin aku menang. Bapak Hakim masuk dengan langkah tenang, wajah teduh, dan aura keimanan memancar menyejukkan. "Ali bin Abi Tholib, sebagai penuntut silahkan anda menceritakan perkaranya." Sayyidina Ali menceritakan kejadiannya, kemudian menghadirkan Hasan puteranya sebagai saksi. Kemudian giliran si Yahudi maju dengan argumentasinya. Perkara ini semakin pelik saja. Hakim yang bijak berkata, "Baik, setelah saya pelajari perkara ini, Ali bin Abi Thalib, anda sebagai penuntut, hingga detik ini tak ada bukti materi yang bisa anda ajukan. Anda hanya menceritakan dan menuntut rasa keadilan Anda. Kemudian Anda mengajukan Hasan sebagai saksi. Kesaksian Hasan saya tolak, karena Hasan adalah putra anda yang akan berpihak kepada Anda. Jadi dalam perkara ini, Yahudilah yang menang." Sayyidina Ali tersenyum gembira dengan keputusan hakim. Meskipun kalah, suka citalah hatinya, karena hakim Islam ini bertindak benar. Sementara si Yahudi terkejut bukan kepalang. Dia tahu betul, bahwa dialah yang sebenarnya mencuri baju besi Sayyidina Ali, walaupun Ali tidak punya bukti materi. Lebih terkejut lagi, karena dia seorang Yahudi yang minoritas di Madinah, bisa menang perkara di pengadilan Islam. Terpesonalah hati Yahudi ini dengan pancaran cahaya keadilan Islam. Epilog:Memang, di alam dunia ini, takaran keadilan adalah takaran bukti-bukti materiil, demikianlah -mungkin- Alloh mengaturnya. Sementara, penuntutan rasa keadilan seringnya tidak cukup hanya sampai pada tataran idealisme, harus disertai dengan pengetahuan, dengan ilmu, dengan bukti materiil. Tetapi diatas itu semua, ada disana, pengadilan Alloh yang Maha Adil. Bagi yang terabaikan rasa keadilannya di dunia ini, Alloh tidak pernah tidur, Dia Maha Tahu. Bagi yang menginjak-injak rasa keadilan, Alloh tidak pernah tidur, Dia Maha Tahu. Maka memang tak ada lagi alasan untuk tidak beriman kepada hari Akhir. Wallohu'alam.
Salah satu tulisan abah yang terngiang-ngiang ^_^ Sudah mengalami editan oleh saya, tanpa bermaksud mengurangi makna tujuannya, karena sebenarnya adalah berbalas wacana di sebuah milis ^_^ ==== Saya punya guru (yang juga guru kawan-kawan saya yang lain di sekolah) yang kaya akan ilmu... rumahnya tinggal di pelosok gang di kota Bandung.. Dengan kapasitasnya ilmunya yang luas menurut saya beliau ini bisa saja untuk memilih jadi orang kaya.. he is very2 competent, briliant & genius engineer.. great opportunities are widely opened for him. Saking kayanya sang guru dengan ilmu, saya selalu rindu sewaktu-waktu berjumpanya kalau sedang di bandung dan mengupdate ilmunya yang terbaru.. Berbagi pengalaman hidup yang saya temui saya mintakan perspektifnya atau hasil penelitian dan pengamatannya terhadap sebuah atau sejumlah fenomena. Karena kekayaan ilmu yang dimilikinya maka selalu saja ada insight baru yang menginspirasi saya untuk berkarya di alam nyata. Pada prinsipnya sang guru tersebut membagikan ilmunya kepada siapa saja yang mendatanginya.. akan tetapi apabila di kemudian diskusi diketahui sang murid menyimpan ambisi (niatan) untuk kaya (harta) maka sang guru akan menghemat proses transfer ilmunya. Mengapa? karena orang-orang yang memiliki niatan kaya secara harta akan membahayakan kemanusiaan. dan cenderung memanipulasi kebenaran demi tujuan utamanya (harta tea).. dan untuk hal ini dia sudah membuktikan nya secara empirik baik pada kawan-kawannya seperjuangan maupun pada murid2nya terkemudian.. Untuk hal ini saya pernah mengulas perbedaan tabiat natural yang signifikan antara pemilik kekayaan material dengan pemilik kekayaan moral (immaterial) Alasan lain akan ilfil nya guru saya ini kepada bocah-bocah yang berniat kaya harta adalah, karena menurut beliau niatan untuk kaya should be keep unspoken.. dia sudah instinctive, fitrah serta kecenderungan asasi manusia sedari lahir yang pada dosis tertentu akan beririsan dengan syahwat yang melenakan dan merusak. Tidak perlu di publikasikan juga manusia sudah punya kecenderungan untuk possesive terhadap harta. Bahkan dalam banyak porsi ajaran islam tentang harta cenderung mengangkat aspek kehati-hatian daripada perangsangan untuk mengakuisisinya. Atau meminjam pernyataannya DR Daud Rasyid, "Lalu apakah pantas seorang pemimpin merangsang anggotanya untuk mengejar harta, sementara Nabi Saw menyuruh ummatnya agar berhati-hati dengan harta dan dunia?!" Saya bukan hanya menghormati attitude sang guru ini, bahkan lebih jauh dari itu, entah kenapa saya sangat terpengaruh dengan pendirian beliau ttg harta ini yang menurut saya mengagumkan.. meski dalam hal-hal lain tidak jarang juga kita "bertengkar" karena perbedaan pandangan. IMHO mimpi, cita-cita, obsesi, ambisi apalagi sampai NIAT untuk menjadi kaya (materi) TIDAK lah sah baik itu sebagai ghoyyah (tujuan utama) maupun terhadap niatan2 antara dalam task-task kecil seorang muslim karena sifatnya yang melenakan. <dipotong>
| |