didin's posts with tag: bandung
Assalamu'alaykum wr.wb.
Yth.Pelanggan Mutiara Catering Bandung
Ramadhan 1429 Hijriyah ini kami melayani nasi box/dus untuk buka puasa (ifthor) bersama di kantor atau kampus. Bagi anda yang ingin berinfaq shodaqoh dengan memberi makan kepada yang berpuasa, kami juga melayani paket nasi dus, nasi bungkus, ta'jil untuk dikirimkan ke masjid-masjid, rumah yatim piatu, atau tempat tertentu yang Anda tunjuk di Bandung.
Untuk pelanggan rantangan, kami mohon maaf, permintaan untuk rantangan sahur hanya dapat kami layani jika pengantarannya sore sebelumnya.
Selamat menjalankan ibadah Ramadhan, Ibu Didin - Mutiara Catering Bandung 0888-603-4082
Pemilihan walikota Bandung untuk pertama kalinya secara langasung, periode 2008 - 2013 telah berlangsung pada hari Minggu, 10 Agustus 2008 kemarin. Hasil perhitungan cepat menunjukkan pasangan nomor 1 Dada Rosada - Ayi Vivananda (incumbent) yang diusung Golkar, PDIP, PAN, Demokrat dan partai-partai lainnya memenangkan (telak) pilkada ini. Demikian pula data-data yang masuk ke KPUD, menunjukkan pasangan Dada - Ayi menang terus hampir di 30 kecamatan se-kota Bandung dengan perolehan suara yang cukup jauh 60%-nan, sekitar dua kali lipat perolehan pasangan nomor 2 Taufikurrahman - Abu Syauqi yang diusung oleh (hanya) PKS. Sedang pasangan nomor 3 Hudaya - Nahadi dari jalur independen tak sampai mendapatkan 10% suara. Meski ada kecewa, karena ada turut terlibat memperjuangkan pasangan TRENDI dari PKS, tetapi untuk kemenangan Dada - Ayi, tentu berlapang dada menerima, yach terima saja lah, kita siap kalah, tapi jauh lebih siap untuk menang :D Kekalahan pasangan TRENDI, tak berarti mengalahkan upaya turut (sedikit) berkontribusi untuk kota Bandung. Ya ga ya ga ya ga...  Subhanallah, perjuangan Tim Pemenangan Pemilu Daerah (TPPD) PKS Bandung. Memobilisasi kader-kadernya. Mulai dari rapat-rapat marathon, penguatan mental dan fisik kader melalui berbagai acara semacam outbound, su'ul maal pengumpulan dana kampanye dari kantong-kantong tipis kader, penempelan atribut oleh bapak-bapak hingga larut subuh, Direct Selling oleh ibu-ibu, saling impor & ekspor kader untuk melakukan direct selling dan sosialisasi calon. Semoga Allah memperhatikan setiap upayanya sebagai amal ibadah dan membalasinya dengan kebaikan yang berlipat ganda. Catatan penting pelaksanaan Pilkada Bandung 2008:- Resistensi aparat birokrat dalam hal ini RW/RT cukup kuat terhadap PKS. Salah satu calon mempunyai daya jelajah dan akses kepada aparat lebih besar melalui struktur birokrasi. Duuh kerasa deh waktu direct selling, temen-temen TRENDI yang lain mengalami pula di RT masing-masing, beda dengan jaman HADE.
- Money Politics masih dominan, terutama kepada struktur aparat RW/RT dengan kontraprestasi yang cukup 'wah' oleh salah satu calon. Pengawasan dari KPUD dan Panwaslu ternyata lemah soalan ini, harapannya agar tetap ada proses hukum terkait politik uang, meskipun bisa jadi yang terkena delik calon yang memenangkan pilkada. Sebagai pendidikan politik dan pijakan yang bagus untuk pemilu mendatang.
- Masyarakat Sunda mempunyai budaya 'someah' atau ramah, murah senyum, suka basa basi atau ngobrol. Para calon harus memdapatkan poin ini untuk dapat dipilih.
- Kader PKS harus lebih 'nyunda' di tanah sunda, dalam pengertian terlibat lebih di masyarakat dan ramah. (Tapi kalau demen ngobrolnya itu loh aduh susyahhhhh bangeds....)
| Category: | Books | | Genre: | History | | Author: | dkm - oke |
Awalnya saya kurang ngeh ketika ibu kos jaman kuliah dahulu menggunakan istilah "ngopi dulu euy.." atau "ieu meni eweuh opieun.." Karena selama ini ngopi ya minum kopi bukan? tetapi di Priangan 'ngopi' mencakup perihal berbagai bentuk acara makan makanan kecil, bahkan jikapun kopi tak dihidangkan.
Istilah 'ngopi' lahir dan melekat dalam kebudayaan Sunda, seiring dengan budidaya tanaman kopi yang pernah mewarnai kehidupan Priangan pada masa lalu.
Pada masa 'Perang Jawa', perang Belanda melawan Pangeran Diponegoro pada tahun 1825 - 1830, Pemerintah Hindia Belanda mengalami kebangkrutan hingga 20.000.000 gulden. Sehingga Belanda kalang kabut mencari uang sebanyak-banyaknya dalam tempo sesingkat-singkatnya untuk mengisi kas yang kosong. Pemerintah Kerajaan Belanda setuju dengan rencana Van den Bosch yaitu Cultuurstelsel atau Tanam Paksa. Dan tanah Priangan paling banyak menghasilkan kopi dan teh. Sedang di Jawa Tengah dan Jawa Timur banyak terdapat pabrik gula sehingga mendapat julukan 'Negeri Gula' (Suikerland).
Itu pula sebabnya, di tanah Sunda segelas teh tawar diberikan cuma-cuma di warung-warung sebagai teman makan. Sedang orang wetan tentu bertanya-tanya dalam hati jika bertamu ke rumah orang Sunda dan 'hanya' disuguhkan teh tanpa gula. Sementara orang Sunda juga geleng-geleng kepala jika harus membayar segelas teh tawar jika makan di warung Jawa. Demikianlah yang satu bertanam teh, yang satu menghasilkan gula.
Dan selama 40 tahun Tanam Paksa itu Belanda mengeruk keuntungan 823 juta gulden, yang mengisi penuh kas Pemerintah Hindia Belanda, sisa melimpah diangkut ke Kerajaan Belanda digunakan untuk membangun gedung-gedungnya, jalan kereta api, industri, armada kapal, persenjataan tentara, bahkan juga untuk biaya perangnya dengan Belgia.
| Category: | Books | | Genre: | History | | Author: | dkm - oke |
Jum'at minggu lalu, saya keluar rumah tepat senja kala. Terpaksa, mencari-cari supermarket buka yang masih menyisakan daging atau ayam. Dari rumah di Cijambe Ujung Berung, berkendara menuju arah barat, tepat menjemput letak matahari tenggelam.
Tampak lain, pendaran warna jingga memang benar-benar jingga, berspektrum hingga jingga muda di kejauhan. Sedikit cahaya matahari membuat kilatan di ujung pandangan. Udara masih terasa kehangatannya. Subhanalloh, seperti dalam filem saja.
Jalan raya Ujung Berung - Cicaheum ke Ahmadyani, Cicadas, Kosambi, Asia-Afrika, Sudirman dan terus ke Cimahi cukup sering terlewati. Ternyata, jalan ini menyimpan cerita yang bersinambung dengan terbentuknya kota Bandung. Ketika Parahyangan masih berupa hutan belantara, dengan danau-danau kecil yang mulai mengering, jalan yang saya lewati jum'at lalu masih berupa jalan setapak yang dilewati para wali (songo) menuju arah Sunda Kelapa.
Di kalangan penduduk pribumi, Bandung pada abad ke-17 dikenal dengan Tatar Ukur. Sultan Agung di Mataram mengamanatkan tugas kepada Dipati Ukur untuk menggempur benteng Kompeni di Jaketra. Karena itulah Kompeni mengutus mata-mata seorang India (Christen Swarten/kristen hitam) bernama Julian de Silva, untuk memperhatikan wilayah yang masih terbilang daerah tak bertuan (terra incognita), karena dikhawatirkan Tatar Ukur bisa menjadi sarang pemberontak.
"Ada sebuah negeri dinamakan Bandong yang terdiri atas 25 sampai 30 rumah," demikian tulis Julian de Silva pada tahun 1641. Memang, wilayah (kota) Bandung bisa dikatakan 'baru' karena pusat-pusat kerajaan Sunda-Galuh tidak pernah berada di kota Bandung yang sekarang.
Seratus tahun kemudian, pada 1741 Kompeni Belanda menempatkan serdadunya di Tatar Bandung, berapa orang? hanya satu yaitu Kopral Arie Top dengan jabatan Komandan Militer. Setahun kemudian jumlah orang kulit putih yang menjadi warga Tatar Bandung naik tiga kali lipat alias bertambah tiga orang yaitu kakak beradik Ronde dan Jan Geysbergen serta seorang Kopral Kompeni tak jelas namanya yang dibuang ke 'neraka' Bandung sebagai hukuman karena membuat kesalahan gede sepeti 'cong ti pauw'(nipu) dan 'liong sep'(nilep/korupsi). Bayangkan Tatar Bandung di kala itu, masih belantara liar yang dijadikan neraka pembuangan.
Tak dinyana, si Kopral punya jiwa bisnis, bersama dua temannya sukses besar jadi juragan kayu. Jadilah 'Paradise in Exhile' hidup di sorga pengasingan. Sejak tersiar kabar itu, berduyun orang Eropa yang mengadu peruntungan di Tatar Bandung. Maka Komandan Militer Arie Top yang makin pusing segera mengirim laporan ke Batavia.
Pada tahun 1786 dibangun jalan setapak yang bisa dilewati kuda yang menghubungkan Batavia-Bogor-Cianjur-Bandung. Terutama untuk kepentingan ekonomi Kompeni Belanda, yaitu mengangku hasil perkebungan kopi yang baru dibuka oleh Pieter Engelhard di lereng selatan gunung Tangkubanperahu.
Baru ketika Daendels berkuasa menjadi Gubernur Jendral Hindia Belanda (1808-1811), pembangunan infrastruktur pulau Jawa menjadi perhatian. Tujuan adalah memperbaiki pertahanan Belanda di Pulau Jawa dari kemungkinan serangan Inggris. Terutama pertahanan di wilayah pedalaman (jauh dari pelabuhan). Untuk itulah Daendles membangun Jalan Raya Pos (Grote Postweg) yang membentang dari Anyer ke Panarukan. Jalan raya Ujung Berung - Cicaheum merupakan sebagian dari rute Grote Postweg. Meskipun pada akhirnya, pertahanan Belanda jebol juga oleh Inggris melalui kota Semarang, hingga Belanda menyerah kepada Inggris di Tuntang, 18 September 1811.
Rupa-rupa cerita masih banyak, kali ini cukup sekian dulu, bisa kita lanjutkan kemudian. Sumber cerita dari 'Wajah Bandoeng Tempo Doeloe' yang ditulis dengan kocak oleh Eyang Haryoto Kunto.
| |