Beginilah kalau ibu-ibu kurang ilmu, jadi berabe ngurus anak

. Kali ini soal susu. Di usianya yang satu tahun (insyaAlloh besok

), ibu dah berencana pilih susu tertentu untuk tambahan asupan susu, yang katanya oke banged sesuai namanya yang pakai embel-embel Royal. Sebenarnya sehari-hari frekuensi pemakaian susu formula amat jarang, Alhamdulillah Allah beri kemudahan, mba nana bisa ASI kapanpun dia mau

. Mba dibikinin sufor jika siang ibu tidak ada di rumah lebih dari tiga jam (kadang-kadang kalau dagang atau miting ga bisa bawa anak, miting apaaan nih). Jadi dalam seminggu mungkin sekali atau dua kali, itupun sering terbuang ga dihabisin. Ibu siasatin beli yang kemasan terkecil 150 gram, dalam dua minggupun teteup aja ngebuang lagi-ngebuang lagi. Jadi sebenarnya ngebeli untuk dibuang, pemborosan

Bahkan di
catatan perkembangan terakhir, ibu masih menuliskan mau coba sufor tertentu sebagai cadangan/jaga-jaga kalau ibu siang kudu ada acara, yang harganya sekaleng 900 gram --saat ini-- 160 ribuan

. Sampai dini hari ini ketika ibu menimba ilmu kesana kemari di jagad maya
di sini,
di sini,
disini dan beberapa lagi, ternyata oh ternyata, ibu teh ga harus serepot itu memikirkan sufor tambahan. Karena pola makan dan jenis asupan yang ibu berikan selama ini dah oke, dah memadai gitchu loh.. (yahhh... selama ini ibu keder diomelin orang-orang kalau ga nyediain sufor

)
Ibu mengingat-ingat lagi, ibunya ibu (mba putri) di kampung dulu ngasih ASI dan makanan pendamping ke bayinya, setelah disapih (2 tahun) diberikan susu sapi segar yang dibeli di peternakan sapi tetangga sebelah, namanya juga di kampung, tinggal bawa mug besar beli susu segar tiap pagi

. Pertanyaan ibu (ibunya mba nana) adalah apakah pencernaan bayi cukup kuat diberi susu sapi murni (istilahnya whole milk). Kalau bukti empiris, ya tiga-tiga anaknya mbah putri oke-oke saja. Tapi ibu kan lebih intelek dari mbah

(walopun mungkin ga lebih cerdas dr mbah) jadi harus punya informasi yang lebih lengkap dong. Ibu cari info ke sana kemari...
Kesimpulannya kurang lebih:
# Susu terutama memenuhi kebutuhan kalsium, jadi bagus minum susu. Tetapi asupan gizi dari sayur, protein, buah, karbohidrat tidak dapat begitu saja digantikan susu. Jadi tentu ga bener kalau minum susu ga makan gpp, atau kalo dah 6 botol sehari ga makan gpp
# Kandungan sufor yang ditambahkan zat macam-macam, terutama adalah strategi pemasaran, tidak terlalu signifikan. Susu itu sendiri sudah mengandung segala kebaikan nilai susu. Jadi jangan mudah termakan iklan.
# Anak satu tahun keatas sudah mendapat asupan gizi yang cukup variatif, bahkan mungkin sudah makan makanan orang dewasa, maka konsumsi susu (tambahan) justru berkurang, kata dokter jadi 300-400cc perhari. Variasi susu bisa dari yoghurt, keju, ice cream.
# Hanya di Indonesia susu mempunyai banyak kategori: susu formula 1, susu formula 2, susu formula 3, susu anak,susu dewasa, susu lansia

. Umumnya di berbagai negara, susu hanya dikategorikan menjadi dua yaitu susu formula untuk bayi dibawah 1 tahun yang tidak mendapatkan ASI, dan susu umum yaitu susu sapi atau whole milk, baik yg murni maupun diproses. Jadi susu dinyatakan relatif SAMA untuk usia diatas 1 tahun, kalau ada tambahan zat macam-macam, itu tidak signifikan. Yg lebih siginifikan adalah menyesuaikan kebutuhan antara susu rendah lemak, dan susu penuh lemak/full cream. Kata teman di luar negeri anaknya dilatih minum susu murni, karena adanya juga itu.
# Mba nana mendapat asupan makan berimbang 3 kali sehari, dengan dua kali selingan, dan ASI sepuasnya. Apalagi mba sekarang doyan yoghurt dan es krim. Jadi sayang juga kalau ibu buang-buang persediaan sufor. Jadi bagaimana kalau ibu coba susu UHT ? semoga mba doyan dan tidak alergi, dan ibu bisa mengalokasikan anggaran sufor untuk yang lain