didin's posts with tag: pendidikan

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag pendidikan
Blog EntryPesan di Lembar UASJul 21, '08 9:26 PM
for everyone
Semester lalu saya menjadi dosen luar biasa disebuah universitas swasta yang tertua di Bandung. Disebut dosen luar biasa karena bukan dosen atau pegawai tetap universitas tersebut. Saya mengajar mata kuliah ke-Informatika-an. Memang benar seperti banyak rumor tentang gaji dosen di negeri ini, kalau nerima slip gaji teh meni ngelus dada, keciiilll banged hi hi hi bisa-bisa memang habis buat bensin, karena jarak kampus yang cukup jauh dari rumah, dari ujung ke ujung.

Tetapi sekalinya berada dikelas, saya merasa sangat terlibat dengan mahasiswa. Saya bisa memberikan bab demi bab materi perkuliahan, sekaligus menanamkan berbagai wacana, menyiapkan jembatan korelasi mata kuliah mereka dengan praktek dunia nyata, agar setidaknya mahasiswa mendapat peta. Dan tentu saja, sebagaimana mata kuliah  ke-IF-an  dulu di  ITB, saya memberikan tugas besar berkelompok, untuk memberikan kesempatan mahasiswa menambah keahlian di bidangnya. Walaupun resikonya nambah kerjaan mengoreksi tugas mahasiswa.

Cukup terkejut sewaktu memeriksa berkas ujian akhir semester (UAS), seorang mahasiswa memberikan pesan pendek di akhir lembar jawabannya:
Butuh nilai lulus, karena ingin 0 SKS.
Agar TA nya lancar.
Mohon maklum adanya karena keterbatasan waktu & biaya
Makasih Bu.
TTD

Pertama kali yang terlintas di benak adalah, waduh ini mahasiswa main-main dengan mata kuliah saya. Enak aja gitu loh...
Kemudian berangsur-angsur, seperti slide presentasi, banyak hal berkelebatan.
Mulai dari masa-masa kuliah, lingkungan yang akademis, temen-temen yang intelek, forum-forum pembicaraan & diskusi yang ramai dan penuh antusiasme. Kuliah yang cukup membayar sekali di awal semester, dengan biaya yang terhitung terjangkau kala itu, karena perguruan tinggi negeri. Ah teman-temanku.. kalian sungguh beruntung! jago-jago, punya akses lebih terhadap banyak hal, hayoooo mana tanggung jawabnya, kontribusi dong kontribusi..

Sementara, mahasiswa swasta ini, membayar cukup mahal, secara umum juga kapasitas inputan kurang dari mahasiswa perguruan tinggi negeri, kadang menghadapi kuliah juga cukup kesulitan, akibatnya lama juga waktu kuliahnya, nanti kalau IPK nya tidak begitu tinggi, semakin kecillah daya saingnya sehingga terbataslah kesempatan kerjanya.

Ternyata, apa yang saya alami ini, dialami pula oleh mairodi, temen kuliah abah, yang kebetulan untuk kepentingan memulai bisnisnya, dia sering bertandang ke rumah. Mairodi ini adalah MR.A di jurusan Teknik Fisika ITB angkatan 98, setiap semester IPK nya diatas 3,5. Mai juga menjadi dosen luar biasa di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Mengajar mata kuliah yang cukup horor, yaitu Kalkulus II, Mekanika dan Kontrol. Pilu juga hatinya, karena lingkungan akademis yang memang cukup berbeda dari kampusnya kuliah dulu. Bab integral dan diferensial saja begitu sulit diterima mahasiswanya. Nilai-nilai ujian juga cukup rendah, sehingga mairodi mengambil inisiatif kebijakan menggunakan sebaran rata-rata statistik dalam memberikan nilai akhir. Sebab jika memakai standar absolut misalnya >75 = A, maka tentu hampir-hampir tidak ada yang memperoleh A, hampir-hampir pula lebih separoh mahasiswanya tidak lulus mata kuliah. Mai mempertimbangkan betapa tingginya biaya kuliah mahasiswa swasta, kasihan pula jika tak lulus-lulus. Mai juga lebih banyak memotivasi mahasiswanya di setiap perkuliahan, ditanya masing-masing, apa orientasi hidupnya, apa tujuan kuliahnya, kemana langkahnya setelah kuliah. Kemudian dipesankannya, kalau mau nilai tinggi di kuliah, belajarlah baik-baik, kalau mau bisnis, bisnis yang betul. Ah mai, bijak juga kau rupanya...

Kembali ke mahasiswa saya diatas, saya menjadi maklum dengan keadannya, tetapi tetap saya harus berusaha bersikap adil, karena ada sekian puluh mahasiswa lain dikelasnya, yang tentu mempunyai usaha dan kapasitas berbeda-beda. Untuk nilai akhir, saya kompilasikan nilai tugas, UTS, dan UAS, kemudian ditarik rata-rata kelas, dan kemudian daftar nilai akhir dapat dibuat. Akhirnya mahasiswa penulis pesan tersebut lulus, dengan nilai C. Dan saya pun berpikir untuk tidak menindaklanjuti pesan pendeknya.

Kali lain, kalau dicalling lagi menjadi dosen luar biasa, dan waktunya memungkinkan, tentu saya bersedia....
ada banyak hal yang ingin dilakukan lagi disana.

ReviewReviewReviewReviewPenerbit Merasa Terancam e-BookJul 19, '08 6:56 PM
for everyone
Category:Other
Sumber : Radar Malang

Kendati tarikan dana buku masih marak, penerbit mulai risau dengan program konten pembelajaran berbasis ICT Depdiknas atau e-book. Bahkan, penerbit Erlangga merasa terpukul dengan kebijakan tersebut. ''Kebijakan ini sangat populis. Penerbit nyaris kolaps," ungkap Manajer Penerbit Erlangga wilayah Kota Malang Teguh Ahmad Sujiono, kemarin.

Teguh mengungkapkan, karena kebijakan itu, ribuan eksemplar buku ajar yang telah dicetak terancam tak terdistribusi. Sebab, sekolah-sekolah belum berani mengadakan kerjasama dengan penerbit tentang pengadaan buku di sekolah. Alasannya, diknas menginstruksikan belum boleh ada tarikan. Sementara, sekolah-sekolah yang terlanjur meneken kerjasama dengan penerbit mulai pikir-pikir tentang perpanjangan kontrak. Kesannya, lanjut Teguh, kepala sekolah mulai ekstra hati-hati dengan kebijakan beli buku. ''Tak sedikit sekolah yang meninjau ulang kontrak. Sebagian lagi memilih lepas kontrak,'' terangnya.

Teguh membeberkan, untuk masuk dalam jaringan sekolah bukanlah hal sulit bagi penerbit. Sebab, kerjasama ini tak didasarkan tender atau izin diknas. Cukup negosiasi dengan sekolah terkait. Proses selanjutnya, biasanya sekolah mengadakan rapat dengan dewan dan komite sekolah. Pada tahapan ini, kepala sekolah, komite, dan dewan sekolah melakukan telaah buku.

''Kalau buku bisa dipakai, biasanya sekolah melakukan kerjasama," urai manajer yang sebelumnya dinas di Cilacap ini.

Karena itu, Teguh berharap pemerintah meninjau ulang kembali kebijakan e-book. Dia berasalan, penerbit selama ini telah berjuang keras turut mencerdaskan anak bangsa. Kini, adanya kebijakan pemerintah tentang e-book dan sebelumnya soal larangan jual beli buku di sekolah, pihaknya merasa bukan pengedar buku. ''Menjual buku dianggap tabu, tapi giliran jual hand phone dan pulsa dibiarkan," tandas Teguh. (nen/war).

===============================
Hmmm.. kalau menurut saya upaya untuk membuat pendidikan lebih terjangkau dan lebih mudah terakses memang diperlukan, seperti program yang digagas oleh Diknas, yang gencar meluaskan keteraksesan internet sebagai salah satu piranti pendukung proses belajar. Padahal akses internet di negeri ini masih amat mahal dan belum berskala nasional/luas.

E-book bisa dipakai oleh guru sebagai bahan ajar, slide presentasi, atau Ubuntu misalnya, bisa membantu pembelajaran yang lebih asyik. Siswapunbisa mendapatkan foto kopi ebook-ebook bahan ajar tertentu.

Bahkan soalan buku pelajaran (apalagi yang pendidikan dasar) seharusnya dikelola pemerintah, sebagai salah satu fasilitas publik, kalau bisa sampai gratis, ini merupakan investasi negara yang sangat besar artinya dan signifikan untuk masa depan.

Lalu bagaimana dengan industri buku (yang dimaksud disini adalah yang memproduksi buku pelajaran). Setiap kebijakan publik akan menimbulkan konflik kepentingan, disinilah diperlukan pengambil kebijakan yang memahami ranah persoalan dengan berbagai timbangan didalamnya. Dengan keterjangkauan akses pendidikan (a.k.a ebook), sebenarnya masyarakat akan menjadi masyarakat terdidik. Masyarakat yang telah terdidik akan masuk ke fasa selanjutnya, yaitu masyarakat yang berkebutuhan terhadap bacaan, maka pada fasa itu industri buku akan mendapatkan posisinya kembali, mungkin juga akan lebih diapresiasi, misalnya harga buku dan royalti kepada penulis lebih terapresiasi.

Tetapi sebelum fasa itu, maka kekhawatiran industri buku juga laik menjadi pertimbangan pengambil kebijakan, harus pula disediakan back up bagi industri buku. Bagaimana lagi, mungkin untuk yang kesekian kali, saya masih harus mengatakan, ini negara tanpa pemerintahan!

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.