didin's posts with tag: shiroh

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag shiroh
Lihatlah ilustrasi pertama ini:

Saya dan abah mengisi bensin untuk motor. Ada dua lajur kiri dan kanan dari kotak bensin untuk tiap motor mengantri. Karena pagi itu cukup ramai, maka lajur kanan terlihat oleh kami (dan setiap motor yang baru datang) terdapat dua antrian. Sebut saja lajur 1 dan lajur 2. Abah mengantri di lajur 1 (lajur yang paling dalam/dekat dengan kotak bensin) sebagai antrian ke-empat , di lajur 2 (lajur yang lebih luar) ada empat motor mengantri. Saya berdiri disamping motor abah yang mengantri, kemudian abah menyuruh saya pindah ke depan (ke paling ujung depan antrian, motor keluar), karena tempat itu cukup teduh oleh bayangan. Dari tempat itu saya mulai mengamati motor-motor yang datang.

Mba pengisi bensin mengisi bensin secara zig zag. Lajur 1 kemudian lajur 2, baris berikutnya lajur 1 kemudian lajur 2, dan seterusnya. Sampai di giliran abah sebagai baris ke empat mengisi bensin. Saya melihat motor datang mengantri di belakang abah, demikian sampai kira-kira tiga motor dibelakang abah. Pada saat baris ke-3 lajur 2  selesai diisi bensin (sesaat sebelum abah giliran diisi bensin), datang satu motor mengantri di lajur 2, kemudian kosong tak ada lagi motor dibelakangnya. Sementara di belakang abah, tiga motor mengantri sedari tadi pengamatan saya.

Begitu motor abah selesai diisi bensin, mba-nya akan mengisi zig zag lagi ke motor lajur 2 (yang dalam pengamatan saya baru datang). Spontan saya bilang ke mba-nya, mbak itu lebih duluan (sambil menunjuk motor di belakang abah). Oh itu ya, demikian kata mba nya. Selanjutnya kamipun berlalu melanjutkan perjalanan.

Di perjalanan, peristiwa tersebut berlanjut jadi obrolan. Abah tidak setuju dengan tindakan yang saya ambil diatas. Argumentasi abah, telah diberlakukan aturan oleh mba pengisi bensin ada dua lajur antrian, dan diisi zig-zag. Mba-nya tentu kesulitan melihat motor mana yang duluan, prosedur dia adalah mengisi zig zag. Sedangkan pemilik motor (seharusnya) otomatis mengikuti lajur antrian, dimana yang lebih kosong, ngantri di lajur tersebut. Menurut abah, saya, dengan pengetahuan yang terbatas terhadap sistem meng-interupsi sebuah aturan. Argumentasi saya adalah, saya mengamati sedari tadi, bahwa motor di belakang abah itu mengantri lebih lama. Rasa keadilan saya menyuruh saya melakukan tindakan diatas.

Demikianlah, sampai pada poin yang hendak disampaikan abah adalah: Idealisme menuntut/mendapatkan RASA KEADILAN sahaja tidak cukup, harus ada pengetahuan dan bukti material untuk mendapatkan PENEGAKAN KEADILAN. Karena apa, karena kita berada di alam dunia, alam materi, dimana keadilan manusia itu harus terukur, terbuktikan dengan bukti-bukti materi. Demikianlah para qodhi, para hakim memutuskan keadilan (dunia).

Ilustrasi kedua:

Sepulang dari peperangan Sayyidina Ali bin Abi Tholib melepas baju besinya. Hasan putranya bertanya, "Ayah hendak diapakan baju perangnya?"
"Ini sebentar lagi akan kita bersihkan nak, mungkin ada yang bisa bantu." Kedua laki-laki mulia itu kemudian masuk rumah. Sejurus kemudian mereka keluar hendak membersihkan baju perang, ternyata sudah tak ada lagi baju perangnya. Sayyidina Ali mencari-cari baju perang tersebut, karena tentu akan dibutuhkan untuk sewaktu-waktu Rasulullah menyerukan panggilan jihad. Sedih hati Sayyidina Ali.

Sampai di sebuah pasar. Sayyidina Ali melihat baju besinya sedang dijajakan oleh seorang Yahudi. Diamat-amatilah ciri-cirinya, detail-detailnya. Benar ini baju perang milikku batinnya. Didatangkannya Hasan, diminta Hasan melihat baju perang itu. Hasan juga mengiyakan, ini adalah baju perang yang dilihatnya waktu itu. Dimintalah baju perang itu dari Yahudi, tetapi si Yahudi mengelak, dia mengklaim bahwa itu baju perangnya. Masing-masing bersi-keukeuh dengan argumennya. Sampai akhirnya perkara tersebut dihadapkan ke pengadilan, agar Qadli yang adil yang akan memberikan keputusan.

Di ruang sidang.

Pucat pasilah si Yahudi, kecutlah hatinya, gemetaran batinnya. Pikirannya melayang kemana-mana. Bagaimana mungkin aku akan menang di pengadilan Islam ini, lawanku adalah pemimpin yang disegani,  hakimnya adalah hakim Islam. Sedang aku seorang Yahudi, bagaimana mungkin aku menang.

Bapak Hakim masuk dengan langkah tenang, wajah teduh, dan aura keimanan memancar menyejukkan. 

"Ali bin Abi Tholib, sebagai penuntut silahkan anda menceritakan perkaranya."
Sayyidina Ali menceritakan kejadiannya, kemudian menghadirkan Hasan puteranya sebagai saksi. Kemudian giliran si Yahudi maju dengan argumentasinya. Perkara ini semakin pelik saja.

Hakim yang bijak berkata, "Baik, setelah saya pelajari perkara ini, Ali bin Abi Thalib, anda sebagai penuntut, hingga detik ini tak ada bukti materi yang bisa anda ajukan. Anda hanya menceritakan dan menuntut rasa keadilan Anda. Kemudian Anda mengajukan Hasan sebagai saksi. Kesaksian Hasan saya tolak, karena Hasan adalah putra anda yang akan berpihak kepada Anda. Jadi dalam perkara ini, Yahudilah yang menang."

Sayyidina Ali tersenyum gembira dengan keputusan hakim. Meskipun kalah, suka citalah hatinya, karena hakim Islam ini bertindak benar. Sementara si Yahudi terkejut bukan kepalang. Dia tahu betul, bahwa dialah yang sebenarnya mencuri baju besi Sayyidina Ali, walaupun Ali tidak punya bukti materi. Lebih terkejut lagi, karena dia seorang Yahudi yang minoritas di Madinah, bisa menang perkara di pengadilan Islam. Terpesonalah hati Yahudi ini dengan pancaran cahaya keadilan Islam.

Epilog:

Memang, di alam dunia ini, takaran keadilan adalah takaran bukti-bukti materiil, demikianlah -mungkin- Alloh mengaturnya. Sementara, penuntutan rasa keadilan seringnya tidak cukup hanya sampai pada tataran idealisme, harus disertai dengan pengetahuan, dengan ilmu, dengan bukti materiil. Tetapi diatas itu semua, ada disana, pengadilan Alloh yang Maha Adil. Bagi yang terabaikan rasa keadilannya di dunia ini, Alloh tidak pernah tidur, Dia Maha Tahu. Bagi yang menginjak-injak rasa keadilan, Alloh tidak pernah tidur, Dia Maha Tahu. Maka memang tak ada lagi alasan untuk tidak beriman kepada hari Akhir. Wallohu'alam.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.